TheBinde09

Sugeng Rawuh, Pemirsa !

HaLo Pemirsa, Piye Kabare !

Selamat Datang di BloG TheBinde09, kita berbagi informasi tentang Video Musik dan info lainnya. Semoga isi/ artikel di Blog ini bermanfaat bagi pemirsa maupun saya sendiri serta bisa menjadi hiburan bagi para pemirsa yang ganteng-ganteng maupun cantik-cantik. Saya menyadari bahwa BloG ini tentu saja banyak kekurangannya, jadi yaaa...gitu deh !!!! Maap nggih !!!!

Posts

Comments

TheBinde09

Blog Journalist

Kenalan Yuk !

Join To Connect With Us

Portfolio

  • Gadis cantik memang sepertinya tak pernah lepas dari pemberitaan media belakangan ini. Lepas dari tukang tambal ban berparas cantik dari kota Malang yang menggegerkan publik internet, beberapa waktu lalu juga digemparkan dengan reporter cantik Indonesia yang mendadak ngetop di ajang AFF Vietnam.

    Nah yang paling baru adalah pesona gadis cantik penjual getuk di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan yang menyita perhatian para pekerja kantoran. Dari parasnya yang rupawan, ternyata Ninih, nama gadis cantik asal iIndramayu tersebut tersirat cita-citanya yang tinggi yakni menjadi Dokter. Namun sayang, kondisi perekonomian yang tak memadai hanya mampu membuatnya membanting tulang merasakan sengatan matahari pagi di Jakarta.

    Namun kabarnya, dalam waktu dekat Niihakan berangkat ke Taiwan menjadi TKI disana.
    "Pengen cari pengalaman saja. Nggak mau kalah sama yang lain. Kalau kakak dan temen-temen saya lainnya bisa, kenapa saya nggak. Mau jadi dokter kan nggak bisa. Ingin cari pengalamanlah pokoknya, sekalian bantu orangtua," kata Ninih, seperti dikutip dari Dream.co.id

    Dream - Hari baru lewat tengah malam. Warga Ibukota sudah lelap di peraduan. Namun, di sudut permukiman padat Pejompongan, Jakarta Pusat, sekelompok perempuan muda baru memulai kehidupan. Mereka dengan tangkas mengupas singkong. Juga merajang aneka sayuran. Mengolahnya menjadi getuk dan pecel. Menu dari desa.

    Satu di antara para perempuan itu adalah Ninih. Gadis belia asal Indramayu, yang tengah ramai dibincangkan di sosial media. Gadis cantik penjual getuk di Jantung Jakarta. 

    Bersama sang kakak, Lina, gadis berusia 18 tahun itu juga turut mempersiapkan menu dagangan itu. "Saya bantuin bikin juga, mengupas singkong dan marut kelapa buat dagangan nanti pagi," kata Ninih kepada Dream, Rabu 26 November 2014.

    Ninih dan kawan-kawannya beranjak dari kontrakan sempit itu kala hari masih remang-remang tanah. Dia harus sampai di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, sebelum matahari merekah. Sebuah keranjang dijinjing di pinggang. Berisi penuh dagangan yang telah disiapkan sejak tengah malam itu.

    "Setelah salat Subuh saya berangkat. Kadang naik ojek, tapi kalau sudah nggak ada, ya naik taksi sama yang lain ramai-ramai," ujar Ninih sambil tersipu.

    Ninih dan rombongannya (yang sama-sama datang dari Indramayu, Jawa Barat itu) menggelar jajanannya di atas sebuah halte bus Transjakarta di Jalan HR Rasuna Said. Di atas jembatan penyeberangan orang itulah mereka membuka `booth`. Menunggu pelanggan yang kebanyakan merupakan pegawai di kawasan perkantoran itu.

    Mimpi Ninih, Gadis Penjual Getuk di Jantung Jakarta

    Sebelum matahari di atas ubun-ubun, dagangan Ninih biasanya sudah ludes terjual. Bahkan terkadang dia sudah melenggang pulang sebelum pukul 09.00 WIB pagi. Maklum, orang yang lalu-lalang di kawasan Kuningan itu adalah orang-orang sibuk. Mereka tak sempat sarapan. apalagi memersiapkan bekal. Makanan yang dijajakan Ninih dan kawan-kawannya inilah yang menjadi harapan mereka untuk mengganjal perut.

    Jika hari libur, Ninih tak berdagang di kawasan perkantoran ini. Dia berpindah lapak. Biasanya berjualan di kawasan Monas, tempat manusia menyemut di hari bebas kerja. Hari Sabtu dan Minggu, Ninih biasa berada di kawasan tugu berpuncak emas itu.

    Meski berparas ayu, Ninih tak malu berdagang di jalanan. Dia tak peduli kulitnya akan menjadi kusam karena sengatan matahari. Dia juga tak risih kala tubuh dibanjiri peluh. Yang penting, pundi-pundi uang terus terisi. Masih ada uang untuk makan dan berkulakan bahan jajanan. Syukur-syukur jika ada sisa untuk ditabung. Untuk membantu ekonomi keluarga di kampung.

    Sebelum mengadu nasib ke Jakarta, anak ke tiga dari empat bersaudara ini pernah menjadi pelayan warung Tegal di daerah Bekasi. "Tapi nggak lama. Habis itu saya pulang lagi ke kampung," tutur Ninih kala menyiapkan dagangan itu.

    Meski demikian, berjualan getuk bukanlah cita-cita gadis lulusan sekolah dasar ini. Ninih merasa masih perlu meningkatkan pendapatan untuk menopang perekonomian keluarga. Sehingga berniat menjadi tenaga kerja Indonesia ke Taiwan. Dan sebuah pabrik plastik di sana telah siap menampungnya.

    "Pengen cari pengalaman saja. Nggak mau kalah sama yang lain. Kalau kakak dan temen-temen saya lainnya bisa, kenapa saya nggak. Mau jadi dokter kan nggak bisa. Ingin cari pengalamanlah pokoknya, sekalian bantu orangtua," kata Ninih.

  • Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahi sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. 

    Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku masih kenyang”


    1.KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
    Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”

    2.KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
    Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Kamu tidurlah duluan, aku belum mengantuk”

    3.KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
    Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

    4.KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
    Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya lebih senang sendiri bersamamu”

    5.KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
    Setelah aku, sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : Ibu masih punya duit”

    6.KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
    Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku lebih suka disini”

    7.KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
    Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”

    8.KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
    Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

    *******

    ”Berbaktilah pada Ibumu, Ibumu, Ibumu”.

    Semoga cerita diatas bisa membuat kita merenung sejenak, apa yang telah di lakukan ibu kita hingga kita menjadi seperti saat ini. Begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukannya untuk membahagiakan kita...



  • Cerita cintaku termasuk unik, tanpa sadar aku mencintai suami orang lain dan membuat mereka bercerai. Aku merasa bersalah, maafkan aku sudah mencintai suamimu.

    Aku mengenal dia “sebut saja mas Heru” saat inteview di salah satu perusahaan swasta. Dia salah satu penanam saham di perusahaan itu, aku di kenalkan dengannya oleh saudaraku. Aku masuk perusahaan itu lewat jasa mas Heru.

    Jarak antar kota tempat tinggalku dengan kantor sekitar tiga puluh menit. Mas Heru menawarkan untuk antar jemput pulang pergi kantor, aku yang dari awal memang menaruh perhatian sama dia tak menolak sedikit pun. Singkat cerita kita pun semakin akrab, kita menjalin cinta.

    Sekitar satu bulan setelah kita jadian aku baru tau kalau mas Heru sudah punya istri, itu dari ceritanya sendiri. Tapi dia menyakinkan aku bahwa dia cinta sama aku. Pernah suatu ketika ada telepon masuk dari hp mas Heru, aku kaget ketika suara yang terdengar adalah suara perempuan.

    Dia langsung membentak dan mencaci makiku. Di sela-sela bentakan perempuan itu dia menyuruh mas Heru memilih antara aku atau dia. Aku cemas, aku takut. Di seberang aku dengar mas Heru dengan lantang ngomong lebih memilih aku ketimbang istrinya. Ya Allah aku ini sudah salah, tapi aku terlanjur cinta sama mas Heru, dan begitu pun mas Heru kepadaku.

    Semenjak hari itu hp ku selalu berdering, telepon maupun sms yang berisi ancaman dan hinaan hampir setiap detik nongol di hp ku. Aku berusaha melupakan mas Heru, tapi tidak bisa, karena memang kami satu kantor. Mas Heru dan istrinya sekarang sedang dalam proses cerai.

    Semua karena salah dan kebodohanku, aku begitu sangat mencintainya dan perlu pembaca tau, semua keluarga mas Heru berada di pihakku, dengan alasan istri mas Heru itu orang yang gak bener.
    Dari sebelum nikah sampe sekarang dia kerja di tempat hiburan malam. Aku minta saran dan solusi dari pembaca Blog ini semua. Terimakasih

    ***
    Punya pengalaman hidup untuk dibagi ke pembaca lain?
  • Namaku Ayu, aku punya cerita yang ingin kubagi ke semua pemirsa , semoga ceritaku ini bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya.

    Sebelumnya, aku adalah seorang wanita yang sangat beruntung. Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan, karir yang memuaskan dan punya kekasih yang sangat mencintaiku.. mau melakukan semuanya untukku. Namanya Dean, dia adalah calon suamiku.

    Bersama Dean, kekasihku itu, aku selalu merasa menjadi seorang wanita yang paling sempurna, aku diperlakukannya bagai seorang puteri. Namun satu hal dari Dean yang sangat membebaniku selama 2 tahun bersamanya, dia amat sangat pencemburu. Awalnya aku anggap biasa saja, wajar jika dia cemburu itu artinya dia sayang padaku. Tapi sekarang sikap cemburunya itu yang menjadi masalah besar dalam hidupku.

    Di kantorku, aku mendapatkan karir yang lumayan bagus dan mendapatkan kepercayaan yang penuh dari bos untuk menyelesaikan proyek besar perusahaan. Bos ku sangat baik dan professional, tapi Dean sangat membencinya dan tidak menyukai pekerjaanku itu, alasannya karena aku sering kontak dengan bos ku.

    Berkali-kali dia meminta ku untuk keluar dari perusahaan tempatku bekerja, dan sebagai gantinya aku akan di rekomendasikan ke perusahaannya. Aku menerimanya, meskipun keluarga tidak mendukung aku tetap menuruti saran kekasihku.

    Seminggu, dua minggu, ku tunggu hingga sebulan belum ada kabar juga dari perusahaan tempat Dean bekerja. Aku mulai putus asa dan selalu disalahkan oleh pihak keluarga. Aku mengalah dan mencoba mencari pekerjaan di perusahaan lain. Dan alhamdulillah aku diterima disebuah perusahaan asing.
    Di kantor baru ini aku mendapatkan suasana baru yang menyenangkan. Semua orang memperlakukanku dengan baik. Aku merasa nyaman berada disini. Terlebih saat aku menjadi bawahan seorang leader yang sangat ku kagumi sebelumnya. Dia sendiri yang mengajukan diri untuk menjadi leaderku. Seperti sedang bermimpi. Cowok yang sangat ganteng, keren, dewasa, dan smart seperti dia mau menjadi leader ku.

    Namanya Evan, awalnya aku canggung terhadapnya, tapi seiring waktu kami mulai dekat. Mengobrol kesana kemari mengenai pribadi dan keluarga masing-masing. Evan berasal dari Bali, semakin menggoda ku, karena dulu aku pernah punya impian mendapat suami yang asli dari Bali tapi beragama Islam sama sepertiku.

    Hari pertama bekerja rasanya sangat indah bersama Evan. Dia memperlakukan ku dengan sangat baik, seperti kekasihnya sendiri yang sudah lama tidak aku rasakan saat aku bersama dengan Dean. Perhatiannya membuat hatiku luluh, bahkan untuk duduk saja dia menyiapkan kursinya untukku, ke kamar mandi pun di antar dan di jaga dari luar olehnya. Perlakuannya sangat membuat hatiku jadi galau dan melupakan segala sesuatu tentang Dean, kekasihku.

    Terlalu asik menikmati waktu berdua dengannya di kantor, aku telambat pulang. Tak ku sangka Dean ternyata menungguku di luar kantor, belum sempat pamit, Dean menarik paksa aku untuk segera pulang. Hal itu membuatku sangat malu dan kami bertengkar di sepanjang perjalanan pulang. Perasaanku begitu cepat hilang untuknya entah karena emosi atau sudah terpengaruh perasaanku pada Revan.
    Aku memutuskan untuk berpisah dengan Dean. Tapi dia menangis sejadi-jadinya dan berlutut padaku meminta hubungan kami untuk tetap berlanjut, tak tega maka kuterima tawarannya. Keesokan harinya karena malu aku tak mau lagi berangkat ke kantor. Aku mengundurkan diri, entah kenapa aku jadi pendiam dan sering menangis, hatiku tertinggal disana, aku sering membayangkan saat-saat bersama Evan, tak bisa terlupakan hingga kini, aku terlanjur memendam perasan pada Evan yang sangat lembut padaku. Sedangkan pada Dean, perasaanku sudah sangat berbeda, setiap hari aku selalu memarahinya, selalu mencari alasan untuk menyalahkannya, tapi Dean tetap teguh pada pendiriannya untuk mempertahankan cintanya padaku.

    Hari-hari aku lalui seperti itu. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah album foto yang jatuh di bawah rak buku. Ternyata itu adalah album fotoku bersama Dean saat kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Air mataku menetes saat menatap wajahnya di foto yang terlihat lembut dan bahkan sebenarnya lebih tampan dari Evan.

    Entah apa yang membuatku begitu tega menyia-nyiakan lelaki yang sangat mencintaiku yang selalu ada di sampingku hanya untuk lelaki yang baru saja aku kenal. Kini aku mengerti semuanya, aku adalah wanita terbodoh di dunia jika meninggalkan laki-laki yang sangat istimewa ini. Lelaki yang bersedia ku maki setiap hari dan mau menuruti semua mau ku termasuk berlutut di kakiku untuk meminta hatiku saat masih duduk di bangku sekolah dulu. Tak akan pernah bisa kudapatkan laki-laki seperti dia.

    Jadi, Alhamdulillah ada hikmah yang bisa kudapat setidaknya bagi diriku sendiri dan untuk pembaca, bahwa menghargai apa yang sudah kita miliki dan menjaganya itu lebih baik di bandingkan mengejar yang tidak pasti.
    ***


    Seperti yang diceritakan Ayu kepada redaksi 
  • Cerita ini berawal ketika aku kuliah disalah satu Universitas swasta di Bandung, aku anak perempuan tunggal di keluargaku, aku sangat menyayangi mamah dan ayahku. Singkat cerita aku berkenalan dengan salah satu senior di kampusku bernama Irfa (nama samaran), teman-temanku yang mendekatkan aku dengan Irfa, setelah sekian lama dia menitipkan salam pada akhirnya aku dipertemukan dengan orangnya dikampus. Pada saat itu aku pertama kali melihat sosok Irfa jujur merasa biasa saja terhadapnya dan tidak ada perasaan suka sedikitpun terhadapnya.

    Tapi hubungan kami berlanjut ketika Irfa mulai meng-add facebookku dan kami mulai bertukar nomor hp dan smsan setiap hari. Hingga pada akhirnya Irfa mengsms aku mengajakku keluar dan ingin menjemputku di kosan. Oh iyaa karna aku jauh dari rumah aku tinggal di kos yang jaraknya dekat dengan kampusku. Aku bertemu dengan Irfa dikosan ku, aku menyuruhnya masuk dan memberi dia minum setelah itu kami pergi untuk makan yang aku tau pada saat itu Irfa adalah sosok laki-laki yang sederhana tapi karena itulah dia menambah nilai plus dimataku ku, mulai pada saat itu aku menyimpan rasa simpatik terhadapnya.

    Setelah makan dia mengantarku pulang ke kosan sejak dari itu hubungan kita berlanjut sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk jadian. Aku mulai menyayanginya apalagi setiap hari kami sering bertemu dan akupun merasakan Irfa sangat menyayangiku, pada saat itu aku bersyukur bisa mendapatkan laki-laki sederhana dan baik, akan tetapi……..

    Disinilah letak kebodohan yang aku lakukan, karena terlalu sering besama ditambah kondisi tempat kos yang bebas membuat hubunganku dengan Irfa seakan tanpa batas. Siang malam bersama membuat kami sudah seperti suami istri bahkan aku rela memberikan keperawananku kepadanya tanpa ada sedikitpun rasa sesal dihatiku. Aku merasa sudah memberikannya kepada orang yang benar-benar aku sayang walaupun ketakutan sering menghantuiku, aku takut dia meninggalkanku, aku takut dosaku terhadap Tuhan tapi karna kasih sayang yang Irfa berikan aku percaya dia akan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan terhadapku dan Irfa sering mengimamiku dalam sholat aku merasa kehidupanku sempurna, mungkin hanya masalah waktu Irfa akan menikahiku setelah lulus kuliah nanti dan aku terus berdoa untuk itu.

    Tapi memang rencana hanya tinggal rencana, Allah lah yang menentukan semuanya, Irfa mulai berubah pelan-pelan meninggalkanku dan ketakutan yang menghantuiku semakin bertambah hingga akhirnya aku berubah menjadi sosok perempuan yang tidak bisa mengontrol emosi, setiap Irfa tidak disampingku aku pasti marah karna aku takut ditinggalkan, hingga akhirnya menjadi bomerang untuk hubunganku dengan Irfa. Aku semakin menjadi sosok perempuan yang posesif terhadap irfa maka tidak heran Irfa mulai takut atas sikapku ini.

    Tak ada lagi kebahagiaan tak ada lagi senyuman, sekarang yang ada hanya pertengkaran. Hingga pada akhirnya aku mengancam Irfa kalau dia tidak mau bertanggung jawab maka akan aku laporkan apa yang sudah dia lakukan pada orang tuanya, karena mungkin Irfa takut akhirnya Irfa jujur pada ibunya tentang aku dan apa yang telah kita lakukan, disitu ibunya mengajakku untuk bertemu dirumah pamannya karna ibunya tidak mau ayahnya Irfa sampai mengengetahui hal ini.

    Akhirnya aku dipertemukan dengan ibu dan om Irfa disitu, aku takut tapi Irfa menggenggam tanganku dengan erat sekali mungkin dia ingin meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, hal itu membuat aku yakin semua akan baik-baik saja. Ibu Irfa sangat baik dan ramah kepadaku, aku senang mengenalnya. Ibunya mulai membicarakan bagaimana baiknya hubunganku dengan Irfa, hingga pada akhirnya kita semua menyepakati bahwa kita akan menikah NANTI !! Setelah aku dan Irfa lulus kuliah dan Irfa selesai masuk Akmil, memang itu bukan waktu yang cukup singkat tapi aku yakin itu semua akan bisa aku lalui tentunya dengan adanya Irfa disampingku.

    Tapi makin lama waktu berlalu, aku merasa semakin tersisih bahkan waktu untuk bertemu Irfa pun tidak sesering dulu, sms pun hanya seadanya, aku makin rapuh menjalani kehidupanku tanpa dia. Setelah pertemuan itu tidak ada lagi pertemuan dengan Irfa. Aku makin tidak sanggup, kesehatanku drop dan kuliahku terganggu. Melihat kondisiku ini, mamahku mulai curiga melihat perubahan yang terjadi padaku. Mamah akhirnya tahu setelah kuceritakan semuanya. Kata mamah sebaiknya aku mengakhiri hubunganku dengan Irfa.

    Air mataku jatuh seketika, aku mencium kaki mamah dan aku memohon maaf dan berkata sejujurnya apa yang telah aku lakukan selama ini dengan Irfa, untuk pertama kali aku melihat mamah menangis, kecewa, marah mendengar pernyataanku saat itu aku seakan menjadi sosok perempuan yang hina akan tetapi pelukan mamah lah yang membuat hatiku tenang. Mamah hanya meminta untuk bertemu dengan orang tua Irfa setelah dihubungi akhirnya mamahku dan ibunya Irfa bertemu di rumah om nya karna tidak mau hal ini diketahui oleh ayahnya Irfa.

    Ketika bertemu aku hanya berharap keadilan terhadapku, akan tetapi aku sadar ternyata Ibu Irfa yang awalnya aku kenal ramah tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat jahat, perkataan yang keluar dari mulutnya pun mulai menyinggung perasaanku, dia hanya memenangkan hak anaknya tanpa memikirkan aku.

    Mamahku hanya bisa menangis, saat itu akhirnya aku bicara kalau aku ikhlas kalaupun Irfa tidak mau bertanggung jawab karena ini sepenuhnya kesalahanku juga telah memberikan keperawananku padanya. Waktu itu aku meminta waktu untuk menenangkan hati karna tidak bisa secepat itu aku bisa mengakihiri semuanya, Aku dibawa pulang kerumah oleh mamahku untuk menenangkan hati dan pikiranku.

    Ayahku tidak mengetahui akan hal ini karena aku meminta mamahku untuk tidak menceritakan hal ini kepada ayahku karna pada saat itu melihat kondisi ayahku yang sering sakit-sakitan, aku tidak mau kalau penyakit ayahku bertambah parah setelah mendengar anaknya seperti ini. Ketika aku tidak disengaja membuka fb ku tiba-tiba yang kulihat hubungan antara aku dengan Irfa diakhiri olehnya apakah tidak ada sedikitpun Irfa memberikan waktu untukku menyembuhkan lukanya hingga dia tambah lagi luka nya dengan ini, aku menangis dan aku coba menghubungi ibunya disitu aku hanya mendapatkan kata-kata yang tidak aku lupa sampai saat ini sms ku berisi (tante kenapa Ifra mengakhiri hubungan secara tiba-tiba dan secepat ini aku salah apa tante) dan balasan dari ibunya hanya (kamu tidak salah apa-apa tapi kamu hanya seorang perempuan MURAHAN!!)

    Detak jantungku seakan terhenti sejenak, aku seakan dimatikan oleh kata-kata ibunya terhadapku. Ya Allah seorang ibu yang juga perempuan sama sepertiku bisa berkata demikian, mesti nerima semua itu tapi aku bertekad aku mesti bangkit dari semua keterpurukan ini aku ingin menebus dosa-dosaku pada mamah dan ayah terutama pada Allah.

    Dengan perasaan yang masih luka aku mencoba untuk berdiri tetapi Allah masih mengujiku. Selang beberapa hari setelah  kepulanganku ke Bandung, aku tiba-tiba diberi kabar agar segera pulang ke rumah mamahku karena penyakit ayahku makin parah dan mulai drop, aku pulang dijemput oleh supi akan tetapi sesampainya di teras depan rumahku aku melihat banyak sekali orang-orang berada dirumahku dan diluar kenapa aku temui bendera kuning? Siapa yang meninggal? Ketika aku berjalan menyusuri rumah ku aku melihat sosok lelaki tua yang kusebut ayah telah berbaring tanpa membuka mata dan bernafas lagi.
    Gak bisa aku gambarin perasaan hatiku aku saat itu ya Allah kenapa berat sekali cobaan yang kau beri untukku, hanya itu yang bisa aku ucapkan, kenapa mesti ayahku? Disaat aku mulai bangkit kenapa ada hal lain yang menjatuhkan aku lagi. Tidak hanya itu selang 7 hari meninggalnya ayahku aku liat Irfa sudah memiliki perempuan lain dan tidak perduli sedikitpun tentang kondisi ku saat itu sungguh aku sedih Irfa jahat sekali terhadapku.

    Sekarang aku memutuskan untuk pindah kuliah dan memulai hidup baru, aku ingin melupakan masa laluku dengan Irfa. Aku yakin apa yang Allah kasih sekarang itu merupakan hal terbaik untukku, aku selalu bersyukur dan tetap tersenyum, I promise god always in my heart apa yang Irfa dan ibunya lakukan semoga aku bisa memaafkannya.

    ***
    Seperti dikisahkan Bunga (samaran) kepada redaksi 

  • Kutarik nafasku dalam-dalam sebelum memulai cerita ini. Rasanya seperti mengorek kisah lama yang belum begitu sembuh. Aku mencintai seorang pria dengan sepenuh hatiku. Tak pernah terbayangkan sedikitpun kalau pada akhirnya aku yang lepaskan dia.

    Kisah ini berawal pada tahun 1999, saat itu umurku masih sangat muda dan masih berstatus mahasisiwi semester 8. Layaknya seorang anak muda aku masih mencari cinta, apalagi waktu itu aku habis disakiti pacar pertamaku, kata orang cinta pertama itu tak akan terlupakan, tapi bagiku tidak, aku sangat mudah melupakan cinta pertamaku. Hal itu terjadi karena perpisahanku dengannya diakhiri dengan penghianatan.

    Setelah hatiku terluka aku mencoba untuk mencari sosok pengganti dari mantanku itu, akhirnya aku berkenalan dengan seorang laki-laki cerdas yang berumur 2 tahun diatasku. Dia berinisial M. Awalnya kita hanya berteman, tetapi karna selalu bepergian bersama dia dan sahabat-sahabat kami berdua, akhirnya cinta itupun tumbuh tanpa bisa kami cegah.

    Awalnya tidak ada sahabat kami yang tau tentang hubunganku dengan dia, tetapi akhirnya mereka tau juga setelah melihat gelagat kami. Kekasihku itu bukanlah orang yang romantis, dia cenderung cuek dan acuh bila di depan teman-teman, tetapi dia bisa lebih manis saat kami jalan hanya berdua, meskipun kebersamaan kami berdua sangat jarang terjadi karna kemanapun kami pergi selalu bersama teman-teman.

    Pada awal-awal hubungan kami jujur aku sempat ragu dengan cintanya, mungkin karena sikap dia yang tidak romantis dan cendrung cuek, meskipun aku mengakui bahwa dia adalah pria yang sangat humoris. Setelah satu tahun kebersamaanku dengannya hubungan kamipun harus terpisah karena kebetulan aku sudah wisuda dan harus kembali ke rumah orang tuaku.

    Kepulanganku ke kota asalku di antar oleh dia dan teman-teman. Aku sangat terharu karena saat aku sudah memasuki bus, aku melihat air mata mengalir di wajahnya yang gagah, saat itu aku baru merasakan bahwa dia mencintaiku. Dalam perjalanan pulang aku tidak berhenti menangis, bayangan wajahnya masih teringat di dalam benakku. Aku sempat berkata dalam hati bahwa aku benar-benar mencintainya.

    Minggu pertama kepulanganku, aku menerima surat dari M. Surat itu begitu membuatku menguras air mata. Dalam surat itu dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku dan merindukanku, bahkan dia bercerita bahwa dia sampai menangis saat menulis surat itu. Aku sangat terharu dan tak bisa kubendung lagi air mataku.

    Dua bulan di rumah orang tuaku, akhirnya aku diterima bekerja di perusahaan swasta. Minggu pertama aku bekerja, terus terang aku jadi idola di kantor, aku rasa bukan karna wajahku yang cantik seperti model, mungkin karna sifatku yang mudah bergaul dengan semua orang, tetapi setelah aku mengumumkan bahwa aku sudah punya pacar di suatu kota, mereka pun mundur teratur.
    Selama perjalanan hubunganku yang jarak jauh, aku sudah tiga kali mengunjungi dia, itu kulakukan karena aku pikir kekasihku itu masih kuliah otomatis dia tidak punya dana untuk mengunjungiku di rumah orang tuaku. Karena aku yang sudah bekerja dan mempunyai gaji, maka akupun harus mendatanginya bila rasa kangenku sudah tidak tertahankan.

    Bencana terjadi saat kunjunganku ketiga, aku menemukan foto dia berdua dengan wanita lain, aku sakit hati, aku pikir kesetiaanku selama ini telah dihianati, walaupun dia bilang itu hanya teman biasa. Saat itu juga aku memutuskan hubunganku dengan dia. Semenjak kejadian itu aku sudah tidak percaya lagi bahwa dia akan setia padaku, apabila kami masih melanjutkan hubunganku dengan dia.
    Dua minggu sudah aku berpisah dengannya, tapi karena cintaku yang begitu dalam aku tidak bisa melupakannya. Akhirnya aku beranikan diri untuk curhat ke temannya via telfon, aku mengatakan aku tidak bisa berpisah darinya. Akhirnya atas saran temannya itu kamipun bersatu lagi.

    Beberapa bulan setelah itu saudaraku pernah bilang begini “pacarmu koq ga pernah dateng kesini? Seharusnya kalau dia serius denganmu dia pasti akan berusaha untuk datang, meskipun dia tidak punya uang“.

    Bagai tertampar aku baru menyadari kebenaran kata-kata saudaraku itu. Akupun mulai meragukan cintanya, setelah dua tahun hubungan kami, belum sekalipun dia datang kerumahku. Seiring berjalannya waktu aku mulai dekat dengan teman kantorku yang berinisial H, meskipun kami masing-masing masih mempunyai kekasih. Awalnya kita hanya curhat tentang masalah kegalauan kami masing-masing.

    Aku curhat ke H bahwa aku meragukan keseriusan pacarku yang tidak pernah mengunjungiku. Diapun curhat tentang penolakan orang tuanya terhadap pacarnya. Mungkin karena sering bersama akhirnya tumbuh benih-benih cinta diantara kami. Kamipun memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih, meskipun kita masih sama-sama mempunyai kekasih, dalam artian kita sama-sama mendua.

    Entah apa yang ada dipikiran H, saat bermain ke rumahku dia memberanikan diri melamarku ke orang tuaku. Dua bulan setelah lamaran itu kamipun bertunangan. Jujur aku tak sanggup mengatakan kepada M bahwa aku sudah bertunangan, aku takut kuliahnya akan terganggu. Tetapi sebelum hari pernikahanku aku beranikan diri untuk menelponnya dan mengatakan bahwa aku akan menikah, dia sangat marah dan aku hanya bisa mengatakan kata maaf. Aku tidak berani mengatakan alasanku untuk meninggalkannya. Biarlah kusimpan dengan baik di dalam hatiku.

    Pernikahanku dengan H berlangsung dengan meriahnya, kami menyewa gedung untuk pesta kami. Pernikahan kami sampai saat ini sudah memasuki usia 10 tahun dan kamipun sudah diberi anak 3. Tapi terus terang sampai saat ini aku masih memimpikan M, meskipun aku tidak berharap untuk bertemu dengannya, bayangannya pun selalu hadir disetiap anganku.

    Pernikahanku dengan H adalah pernikahan yang harmonis. Aku sengaja menuliskan di rubrik ini untuk meminta saran dan pendapat dari pembaca ceritacurhat.com bagaimana caraku untuk melupakan M. Sekarang M juga sudah menikah dan mempunyai anak. Atas sarannya saya mengucapkan terima kasih.
    ***
    Seperti yang diceritakan saudari Yuni ke redaksi

Comments

The Visitors says